
https://www.youtube.com/watch?v=TPggt3-faWY&t=1583s
Assessment in Education for Sustainable Development (ESD) is evolving.
Beberapa waktu lalu saya menyimak webinar yang diselenggarakan oleh UNESCO Chair in Higher Education for Sustainable Development (Leuphana University of Lüneburg) dengan pembicara Dr. Aaron Redman dan Dr. Caleb Mandikonza.
Salah satu pesan yang paling saya garis bawahi adalah bahwa tantangan ESD saat ini bukan lagi hanya apa yang harus diajarkan, tetapi bagaimana mengukurnya.
Selama ini banyak instrumen ESD masih berfokus pada pengetahuan atau menggunakan self-assessment. Padahal ESD menuntut sesuatu yang lebih kompleks: bagaimana peserta didik berpikir, menghubungkan berbagai perspektif, merefleksikan keputusan, hingga mengambil tindakan yang bertanggung jawab.
Dr. Aaron Redman menekankan pentingnya assessment yang terintegrasi dengan proses pembelajaran, bukan sekadar mengukur hasil akhir. Sementara Dr. Caleb Mandikonza mengingatkan bahwa pembelajaran ESD tidak cukup dinilai dari aspek kognitif saja, tetapi juga perlu mencakup dimensi sosial-emosional dan aksi nyata.
Bagi saya, diskusi ini semakin menguatkan keyakinan bahwa pengembangan instrumen dalam science education tidak bisa hanya mengikuti prosedur psikometrik. Yang sama pentingnya adalah memastikan bahwa apa yang diukur benar-benar merepresentasikan konstruk yang ingin dikembangkan dalam konteks disiplin ilmunya.
Terima kasih kepada penyelenggara dan para pembicara atas diskusi yang sangat membuka wawasan.
🎥 Webinar: https://www.youtube.com/watch?v=TPggt3-faWY&t=1583s
#EducationForSustainableDevelopment #ESD #Assessment #ScienceEducation #Sustainability #Psychometrics #EducationalResearch #UNESCO #WISE
Resume:
Leave a Reply